edt%5D.jpg)
Melatih kesabaran hati sangat berhubungan erat dengan suasana hati seseorang. Menurut Richard Wenzlaff, ahli psikologi
mengalihkan suasana hati agar menjadi positif dapat dilakukan dengan melakukan selingan yang positif seperti menonton peristiwa olahraga yang dinanti-nanti, film komedi atau dengan membaca buku-buku bacaan ringan.
Melatih kesabaran hati selain mengawal dimensi emosional diri, berhubungan dengan dimensi spiritual seseorang. Manusia yang memiliki orientasi pada nilai-nilai spiritualiasme yang bersumber dari hati nurani, maka ketika terjadi rangsangan pada emosinya, emosinya akan tetap tenang dan terkendali. Kerana aspek mentalnya telah diperkuat oleh nilai-nilai spiritualnya. Suara hati “Illahiah” dalam dimensi spiritual akan menjadi pembimbing untuk beraksi normal terhadap rangsangan emosi.
Kesabaran hati dalam pengertian mampu menerima keadaan, memahami situasi dan dapat mengendalikan emosi dan amarah. Kesabaran hati adalah akar dari rahsia kebijaksanaan hidup. Kebijaksanaan dalam menghadapi berbagai persoalan, betapa pun beratnya dan tetap selalu menebarkan cinta dan kasih sayang.
Memaafkan Dan Membalas Dengan Kebaikan
Dikisahkan bahwa Nabi Isa as pernah dihina, namun ia tetap senyum, tenang, dan mantap, tidak sedikitpun ia menjawab atau membalas dengan kata-kata kotor mengiris tajam seperti yang diucapkan si penghinanya. Ketika ditanya oleh sahabat-sahabatnya, “Ya Rabi (Guru), kenapa engkau tidak menjawab dengan kata-kata yang sama ketika engkau dihina, malah Baginda menjawab dengan kebaikan ?” Nabi Isa as, menjawab : “Kerana setiap orang akan menafkahkan apa yang dimilikinya. Kalau kita memiliki keburukan, maka yang kita nafkahkan adalah keburukan, kalau yang kita miliki kemuliaan, maka yang kita nafkahkan juga kata-kata yang mulia.”
Percayalah, makin mudah kita tersinggung, makin sengsara hidup dikuasai oleh emosi amarah. Padahal, kita dapat menjadikan orang-orang yang menyakiti kita sebagai ladang amal. Maka berusahalah membalas kebenciaan seseorang dengan memaafkannya dan membalasnya dengan kebaikan. Membalas emosi kemarahan yang datang dengan memaafkan.
Berdamai Dengan Diri Sendiri
Cara bijaksana dalam mengendalikan emosi amarah. Setiap orang yang mencintai dirinya sendiri, pada akhirnya akan memaafkan kesalahan dan kekurangan diri sendiri. maksudnya, Mampu mencintai diri sendiri dan memenuhi hati dengan cinta dan kasih sayang.
memahami setiap keadaan yang datang, tidak menyalahkan orang lain, dapat menerima sesuatu yang menimpa diri dengan lapang. Hidup tidak jarang dipenuhi dengan peristiwa-peristiwa yang membuat emosi tergerak seperti frust, depresi, rasa sakit hati, bersedih, bahagia dan hal-hal yang tidak dapat diramalkan. Kalau mampu berdamai dengan keadaan, berdamai dengan diri sendiri, maka hati akan menjadi lebih lapang. Memiliki hati yang lapang menjadikan kesabaran dan kemampuan mengendalikan emosi kemarahan.
MaizaC’Joe













