
Setiap individu memiliki hati untuk memilih respon terhadap situasi, keadaan dan masalah yang datang. Inilah yang membezakan manusia yang dibekalkan akal fikiran dan hati nurani dengan makhluk ciptaan Allah lainnya. Manusia memiliki kebebasan hati untuk memilih apakah bersikap positif atau memilih respon negatif, dari setiap situasi, keadaan, tulisan, semuanya ditentukan dari hati.
Manusia yang dibekalkan kecerdasan hati nurani, sebaiknya selalu memilih sikap yang berlandaskan hati nurani terdalam. Hindari prasangka negatif sentiasalah bersangka baik dalam setiap tindakan, tidak terkecuali dalam apa-apa keadaan sekalipun. Kerana adanya prasangka buruk akan dapat menutupi kejernihan suara hati nurani.
Dalam sebuah hadits,
“ Takutlah kalian berprasangka, kerana itu merupakan sedusta-dusta perkataan.”
Memiliki prasangka negatif tidak sedikitpun mendatangkan kebaikan, baik buat diri sendiri mahupun orang lain. Yang ada hanyalah mendatangkan kerugian dan kekecewaan bagi semua pihak. Kerana suara hati nurani yang bersumber dari percikan sifat-sifat “Illahiah” dari Allah. Kehidupan tidak memiliki kejernihan hati, sehingga merugikan diri sendiri.
Apakah prasangka?
pengertian prasangka ini dari Imam Sufyan Ats-Tsauri seorang ulama muslim, sesungguhnya prasangka itu ada dua jenis:
- Pertama, prasangka yang dilakukan oleh orang dengan menampakkannya melalui ucapan atau tulisan.
- Kedua, prasangka yang dilakukan oleh orang yang hanya berprasangka dalam hati dan tidak diungkapkan dalam ucapan mahupun tulisan.
Meskipun memiliki kadar yang berbeza, tapi keduanya dapat berimplikasi buruk dan kerugian bagi kehidupan. Walaupun, seseorang hanya memiliki prasangka dalam hati yang nampaknya ringan sekalipun, hal ini dapat menjadi pembuka jalan terjadinya prasangka yang dinampakkan melalui ucapan, tulisan dan bahkan tindakan. Pada dasarnya prasangka negatif yang melalui ucapan atau tindakan itu terjadi bermula dari prasangka negatif dari dalam hati manusia.
Dalam banyak riwayat disampaikan bahawa,
“Allah SWT justeru melihat apa yang ada di kedalaman hati hamba-Nya.”
Prasangka negatif dalam hati sekecil apapun tidak akan pernah luput dari pantauan Allah SWT. Kerana itu, dalam berkomunikasi, berusaha menghindari prasangka negatif dan prasangka buruk dari dalam hati, kerana ini hanya akan menutup potensi kejernihan suara hati nurani yang merupakan percikan sifat-sifat mulia yang bersumber dari Allah SWT. Lebih baik selalu berusaha mengarahkan hati pada fikiran positif, sehingga tulisan, tindakan dan ucapan tetap terjaga kejernihannya.
Kita adalah raja dari hati dan fikiran sendiri. Lebih baik mengendalikan hati dan fikiran untuk selalu kearah positif. Hati yang positif akan menentukan sikap hidup yang positif, sikap hidup positif akan mempengaruhi kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan yang positif akan menghasilan hal-hal positif dan kemudahan dalam hidup ini.
Maiza
cuba elakkan diri dari berprasangka buruk
lebihkan berfikir secara positif
menuju keberhasilan
InsyaAllah
Amen
MaizaC’Joe

























